MONITORING PEMANFAATAN BANTUAN PERIKANAN DI KECAMATAN MORO KABUPATEN KARIMUN PROVINSI KEPULAUAN RIAU

      Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau besera jajarannya dalam rangka monitoring dan optimalisasi pemanfaatan bantuan sarana prasarana perikanan, khususnya perikanan budidaya, melakukan kunjungan ke beberapa lokasi sentra perikanan di Kecamatan Moro Kabupaten Karimun dan Selat Nenek Kota Batam. Dalam kunjungan antara tanggal 11 s.d 13 Oktober 2017 diisi dengan pertemuan dan diskusi bersama Penyuluh Perikanan Lapangan dan kelompok pelaku usaha perikanan, dan diharapkan melalui kegiatan ini dapat dipetakan permasalahan yang dihadapi pelaku usaha budidaya, baik pembudidaya ikan dan rumput laut, serta alternatif solusi yang dapat diambil dalam jangka pendek dan jangka panjang. Secara umum untuk mendorong peningkatan pengembangan usaha budidaya rumput laut dan ikan laut adalah ketersediaan benih dan bibit unggul dalam jumlah yang cukup.

      Moro, merupakan ibukota Kecamatan Moro Kabupaten Karimun. Daerah ini merupakan salah satu sentra perikanan tangkap dan budidaya di Provinsi Kepulauan Riau. Pemerintah Kabupaten Karimun melalui Keputusan Bupati Karimun Nomor 148.A tahun 2011 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan Kecamatan Moro telah menetapkan Kecamatan Moro sebagai kawasan minapolitan di Kabupaten Karimun. Komoditas utama yang akan dikembangkan adalah rumput laut, keramba jaring apung dan penangkapan ikan. Dalam mendukung pengembangan pengolahan rumput laut, maka melalui dana APBN tahun 2009 dibangun depo rumput laut dan rumah kemasan melalui APBD tahun 2014.

      Jumlah kelompok aktif pembudidaya rumput laut tahun 2017 sebanyak 3 kelompok dengan 30 KK anggota. Perkiraan produksi per KK sekitar 4 ton basah atau 400 kg kering dengan masa tanam 45 hari. 20 KK berada di Pulau Jaga dan 10 KK di Pulau Jang. Saat ini harga jual rumput laut kering jenis Euchema spinosum sekitar Rp.2.500,-/kg dan jenis Euchema cottonii mencapai Rp.7.000,-/kg. Perencanaan pengembangan rumput laut sesuai target sebesar 50 Ha, untuk itu diperlukan peningkatan jumlah pembudidaya aktif. Sebaran pembudidaya ditargetkan dari Desa Sugi, Tanjung Sembakul, Tanjung Susup, Desa Pauh dan Geranting (Batam).

     Lokasi pertama adalah PT Indonesia Mariculture Industries (PT. Indomarind) di Pulau Batu Kecamatan Moro Kabupaten Karimun. Perusahaan ini mengelola usaha budidaya ikan kakap sejak tahun 2003. Luas lahan perikanan budidaya mencapai 40 hektar. Usaha budidaya dikelola sendiri, tidak dalam bentuk kemitraan dengan nelayan. Saat ini, ikan kakap hasil budidaya perseroan diperuntukkan untuk konsumsi lokal dan memenuhi pasar ekspor. Produksi PT. Indomarind per tahun rata-rata 300 ton, meski pernah mencapai angka 1.000 ton per tahun. Misi perseroan adalah mencapai target produksi 3.000 ton per tahun. Kendala utama adalah penyakit yang membuat kerap gagal panen. Budidaya ikan, kuncinya harus punya induk unggul dan bebas penyakit sehingga tumbuhnya cepat, gampang bertelur, dan bentuknya bagus untuk diproses di industri. Ikan kakap gampang bertelur, tidak seperti kerapu yang biasanya hanya ada di daerah tertentu dan bertelur di masa-masa tertentu. Sertifikat kelayakan yang sudah dimiliki adalah HACCP, ISO 22000, CBIB dan CPIB.

      Pulau Jaga, di Kecamatan Moro Kabupaten Karimun, merupakan sentra pengembangan budidaya rumput laut di Provinsi Kepulauan Riau. Masa tanam berkisar dalam 45 hari, dimana produksi kering pada musim panen mencapai 50-100 ton per bulan dengan harga jual di pembudidaya antara Rp.6.000,- dan Rp.7.000,-/kg. Dalam kesempatan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan menyerahkan bantuan berupa 100 buah bubu ketam, 25 unit jaring udang dan 10 gulung kawat bubu. Lokasi berikutnya adalah Pulau Durai, Kecamatan Moro Kabupaten Karimun, merupakan salah satu sentra pengembangan budidaya keramba jaring apung (KJA) di Provinsi Kepulauan Riau. Usaha budidaya mulai dikembangkan sekitar tahun 2010. Tahun 2014 KUB Sanggam Jaya mendapat bantuan 32 kantong KJA dan masih berproduksi sampai hari ini. Bibit ikan yang telah berhasil dipanen adalah kerapu dan kakap putih.

      Sentra perikanan budidaya di Kecamatan Moro yang terakhir dikunjungi adalah Selat Belinge, berada di Desa Keban Kecamatan Moro Kabupaten Karimun, merupakan salah satu sentra pengembangan budidaya keramba jaring apung (KJA) di Provinsi Kepulauan Riau. Usaha budidaya mulai berkembang sekitar tahun 2010, Kelompok Usaha Bersama (KUB) Kerapu Jaya mendapat bantuan 30 kantong KJA dan masih dapat dimanfaatkan sampai saat ini. Tahun 2017 KUB ini mendapat kepercayaan mengelola sejumlah dana BUMDes untuk pembesaran ikan kerapu cantang. Jenis ikan yang dibudidayakan antara lain kerapu cantang, kerapu cantik dan kakap putih. Untuk bibit diperoleh dari BPBL Batam dan hasil panen juga ditampung melalui BPBL Batam, dengan harga jual antara Rp.95.000-Rp.100.000,-/kg. Selain Pulau Jaga, usaha budidaya rumput laut berada di Tanjung Susup, Tanjung Sembakol dan Geranting (wilayah Batam).  Untuk mendorong peningkatan pengembangan usaha budidaya rumput laut adalah tersedianya benih unggul dalam jumlah yang cukup.

      Kendala utama budidaya rumput laut adalah penyakit ice-ice. Kasus ice-ice pada budidaya rumput laut dipicu oleh fluktuasi parameter kualitas air yang ekstrim (kadar garam, suhu air, bahan organik terlarut dan intensitas cahaya matahari). Pada keadaan stress, rumput laut akan membebaskan substansi organik yang menyebabkan thallus berlendir dan merangsang bakteri tumbuh melimpah di sekitarnya. Pertumbuhan bakteri pada thallus akan menyebabkan bagian thallus menjadi putih dan rapuh. Selanjutnya, mudah patah, dan jaringan menjadi lunak yang menjadi ciri penyakit ice-ice. Penyakit ini biasanya terjadi antara akhir bulan November s.d bulan Maret., Kendala utama yang dihadapi adalah pemasaran hasil panen dalam skala besar, pembudidaya belum memiliki jaringan pasar dan/atau penampung yang siap membeli hasil panen dalam jumlah besar dan harga yang baik. Untuk itu disarankan panen dibagi dalam beberapa tahap dengan kisaran produksi 200 s.d 300 kg/panen.